๐ŸŒฉ๏ธ Doa Penarik Rezeki Syekh Abul Hasan Asy Syadzili

Androidเค•เฅ‡ เคฒเคฟเค Hizib Al Bahri Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili 1.0.0 APK เคกเคพเค‰เคจเคฒเฅ‹เคกเฅค Hizib เค…เคฒ เคฌเคพเคนเคฐเฅ€ เคถเฅ‡เค– เค…เคฌเฅเคฒ เคนเคธเคจ เคเคถ เคถเคพเคงเคฟเคฒเฅ€ TeksBacaan Hizib Nashor atau Hizib Qohar Lengkap Faedah, dan Cara Mengamalkannya. 4 bulan yang lalu 13. Hizib yang cukup populer dan dikenal oleh masyarakat luas salah satunya adalah Hizib Nashar. Hizib Nashar dikenal pula dengan nama Hizib Qahr. Hizib ini merupakan wirid yang istiqamah diamalkan para penganut tarekat Qadiriah dan Syadziliyah. SyaikhAbu Hasan dilahirkan di Maroko tahun 593 H di desa yang bernama Ghimaroh di dekat kota Sabtah (dekat kota Thonjah sekarang). Di kota kelahirannya itu Syaikh Abu Hasan pertama kali menghafal Al Qur'an dan menerima pelajaran ilmu agama, termasuk mempelajari fikih madzhab Imam Malik. Beliau berhasil memperoleh ilmu yang bersumber pada Al BukuRisalah Al Amin Kitab Tasawuf IMAM Abu Hasan Asy SYADZILI di Tokopedia โˆ™ Promo Pengguna Baru โˆ™ Cicilan 0% โˆ™ Kurir Instan. Sejarahditerimanya Hizib Bahri adalah sebagai berikut : Pada waktu itu asy Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu di antaranya harus menyeberangi Laut Merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama Nasrani. SayidAbul Hasan asy-Syadzilisang murabbi para arif dan gurunya Syekh Ibnu Athaillah [penulis Al-Hikam]menjelaskan segala aspek pengetahuan ini, eksternal maupun internal. Produk Syekh Abul Hasan asy-Syadzili. Selengkapnya. Produk Rekomendasi. Selengkapnya. PT. Millennia Tijara Semesta Jl. Joe No. 11 Jagakarsa, Jakarta Selatan Indonesia BACAJUGA: Baca Amalan-amalan Ini Siap-siap Rezeki Mengalir Deras: Kajian Kitab Taqrib Al-Ushul Li Tashil Al-Wushul. 3. Makna Di Balik Pernyataan Tersebut. Perkataan Syekh Abul Hasan Asy Syadzili ini menunjukkan penghormatan dan kepercayaan kepada Imam Al Ghazali sebagai sosok yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah. Secarapribadi Abul Hasan asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasawuf, begitu juga muridnya, Abul Abbas al-Mursi, kecuali hanya sebagai ajaran lisan tasawuf, Doa, dan hizib. Ibn Atha'illah as- Sukandari adalah orang yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga kasanah tareqat Syadziliyah tetap Ciriciri Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah ulama kharismatik.Beliau memiliki beberapa ciri-ciri,seperti: -Berkulit sawo matang. -Berbadan kurus. -Perawakannya tinggi. -Pipinya tipis. -Jari-jari kedua tangannya panjang. -Lidahnya fasih serta perkataannya selalu baik. . Dzikir dan Hizib Tarekat Syadziliyah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Penganut Tarekat Syadziliyah kental dengan suasana dzikir dan hizib dalam tata cara ritual peribadatnnya. Ia tidak jauh dari ciri khas Tasawuf menarik dari Tarekat Syadziliyah adalah, kandungan makna hakiki dari Hizib hizib itu, memberikan tekanan simbolik akan ajaran utama dari Tasawuf atau Tarekat Syadziliyah. Jadi tidak sekadar doa belaka, melainkan juga mengandung doktrin sufistik yang sangat dzikir yang merupakan suatu hal yang mutlak dalam tarekat, secara umum pada pola dzikir tarekat ini biasanya bermula dengan Fatihat adz-dzikir. Para peserta duduk dalam lingkaran, atau kalau bukan, dalam dua baris yang saling berhadapan, dan syekh di pusat lingkaran atau diujung mengenai dzikir dengan al-asma al-husna dalam tarekat ini, kebijasanaan dari seorang pembimbing khusus mutlak diperlukan untuk mengajari dan menuntun murid. Sebab penerapan asma Allah yang keliru dianggap akan memberi akibat yang berbahaya, secara rohani dan mental, baik bagi si pemakai maupun terhadap orang-orang di contoh penggunaan Asma Allah diberikan oleh Ibn Athaโ€™ilah berikut โ€œAsma al-Latif,โ€ Yang Halus harus digunakan oleh seorang sufi dalam penyendirian bila seseorang berusaha mempertahankan keadaan spiritualnya; Al-Wadud, Kekasih yang Dicintai membuat sang sufi dicintai oleh semua makhluk, dan bila dilafalkan terus menerus dalam kesendirian, maka keakraban dan cinta Ilahi akan semakin berkobar; dan Asma al-Faiq, โ€œYang Mengalahkanโ€ sebaiknya jangan dipakai oleh para pemula, tetapi hanya oleh orang yang arif yang telah mencapai tingkatan yang Syadziliyah terutama menarik dikalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat, dan pengawai negeri. Mungkin karena kekhasan yang tidak begitu membebani pengikutnya dengan ritual-ritual yang memberatkan seperti yang terdapat dalam tarekat-tarekat yang lainnya. Setiap anggota tareqat ini wajib mewujudkan semangat tarekat didalam kehidupan dan lingkungannya sendiri, dan mereka tidak diperbolehkan mengemis atau mendukung karenanya, ciri khas yang kemudian menonjol dari anggota tarekat Syadziliyah ini adalah kerapian mereka dalam berpakaian. Kekhasan lainnya yang menonjol dari tarekat ini adalah โ€œketenanganโ€ yang terpancar dari tulisan-tulisan para tokohnya, misalnya asy-Syadzili, Ibn Athaโ€™illah, Schimmel menyebutkan bahwa hal ini dapat dimengerti bila dilihat dari sumber yang diacu oleh para anggota tareqat ini. Kitab ar-Riโ€™ayah karya al-Muhasibi. Kitab ini berisi tentang telaah psikologis mendalam mengenai Islam di masa awal. Acuan lainnya adalah Qut al-Qulub karya al-Makki dan Ihya Ulumuddin karya โ€œketenanganโ€ ini tentu saja tidak menarik bagi kalangan muda dan kaum penyair yang membutuhkan cara-cara yang lebih menggugah untuk berjalan di atas Jalan Yang Benar. Baca Syarat Mempelajari TarekatDisamping Ar-Risalahnya Abul Qasim Al-Qusyairy serta Khatamul Auliyaโ€™nya, Hakim at-Tirmidzi. Ciri khas lain yang dimiliki oleh para pengikut tarekat ini adalah keyakinan mereka bahwa seorang Syadzilliyah pasti ditakdirkan menjadi anggota tarekat ini sudah sejak di alam Azali dan mereka percaya bahwa Wali Qutb akan senantiasa muncul menjadi pengikut tarekat berbeda dengan tradisi di Timur Tengah, Martin menyebutkan bahwa pengamalan tarekat ini di Indonesia dalam banyak kasus lebih bersifat individual, dan pengikutnya relatif jarang, kalau memang pernah, bertemu dengan yang lain. Dalam praktiknya, kebanyakan para anggotanya hanya membaca secara individual rangkaian-rangkaian doa yang panjang hizb, dan diyakini mempunyai kegunaan-kegunaan juga Tasawuf Aswaja Ahlussunnah Wal Jamaah, Tinjauan SekilasMuqoddimah Qonun Asasi Hadrotussyekh Hasyim Asyโ€™ariHizib al-Bahr, Hizib Nashor, Hizib al-HafidzahMasih tentang Dzikir hizib Tarekat Syadziliyah. Para pengamal Tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili ini mempelajari berbagai hizib, paling tidak idealnya, melalui pengajaran talkin yang diberikan oleh seorang guru yang berwewenang dan dapat memelihara hubungan tertentu dengan guru tersebut, walaupun sama sekali hampir tidak merasakan dirinya sebagai seorang anggota dari sebuah al-Bahr, Hizb Nashor, disamping Hizib al-Hafidzah, merupaka salah satu Hizib yang sangat terkenal dari as-Syadzilli. Hizib ini dikomunikasikan kepadanya oleh Nabi SAW. Sendiri. Hizib ini dinilai mempunyai kekuatan adikodrati, yang terutama digunakan untuk melindungi selama dalam Batutah menggunakan doa-doa tersebut selama perjalanan-perjalanan panjangnya, dan berhasil. Dan di Indonesia, di mana doa ini diamalkan secara luas, secara umum dipercaya bahwa kegunaan magis doa ini hanya dapat โ€œdibeliโ€ dengan berpuasa atau pengekangan diri yang lainnya dibawah bimbingan dalam Tareqat Syadzilliyah, di Indonesia, juga dipergunakan oleh anggota tarekat lain untuk memohon perlindungan tambahan Istighotsah, dan berbagai kekuatan hikmah, seperti debus di Pandeglang, yang dikaitkan dengan tareqat Rifaโ€™iyah, dan di Banten utara yang dihubungkan dengan tarekat ahli mengatakan bahwa hizib, bukanlah doa yang sederhana, ia secara kebaktian tidak begitu mendalam; ia lebih merupakan mantera magis yang Nama-nama Allah Yang Agung Ism Allah Aโ€™zhim dan, apabila dilantunkan secara benar, akan mengalirkan berkan dan menjamin respon supra pemakaian hizib, wirid, dan doa, para syekh tarekat biasnya tidak keberatan bila doa-doa, hizib-hizib Azhab, dan wirid-wirid dalam tareqat dipelajari oleh setiap muslim untuk tujuan personalnya. Akan tetapi mereka tidak menyetujui murid-murid mereka mengamalkannya tanpa wewenang, sebab murid tersebut sedang mengikuti suaru pelatihan dari sang Syadziliyah ini mempunyai pengaruh yang besar di dunia Islam. Sekarang Tarekat Syadziliyah ini terdapat di Afrika Utara, Mesir, Kenya, dan Tanzania Tengah, Sri langka, Indonesia dan beberapa tempat yang lainnya termasuk di Amerika Barat dan Amerika Mesir yang merupakan awal mula penyebaran Tarekat Syadziliyah ini yang mempunyai beberapa cabang, yakitu al-Qasimiyyah, al- madaniyyah, al-Idrisiyyah, as-Salamiyyah, al-handusiyyah, al-Qauqajiyyah, al-Faidiyyah, al-Jauhariyyah, al-Wafaiyyah, al-Azmiyyah, al-Hamidiyyah, al-Faisiyyah dan al- menarik dari Tasawuf Asy-Syadzily, justru kandungan makna hakiki dari Hizib-hizib itu, memberikan tekanan simbolik akan ajaran utama dari Tasawuf Aswaja termasuk Tarekat Syadziliyah pimpinan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili. Jadi tidak sekadar doa belaka, melainkan juga mengandung doktrin sufistik yang sangat dahsyat. ๏ปฟSyekh Abu Hasan As-Syadzili adalah seorang ulama sufi yang lahir di desa yang bernama Ghumarah, dekat daerah Sabtah sekarang kota Thonjah/Ceuta, Afrika Utara, Maroko. Pada tahun 593 H/ 1197 M. nama lengkap beliau adalah Ali Bin Abdillah, Bin Abdul Jabbar, Bin Tamim, Bin Hurmuz, yang kalau diteruskan nasabnya akan sampa kepada Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib, cucu Rosulullah intelektual dan ruhaniah Syekh Abu Hasan as-Syadzili sangat panjang, beliau pertama kali belajar ilmu syariat dan menghafal al-qurโ€™an waktu masih kecil di desa kelahirannya. Namun betatapapun penguasaan seseorang terhadap ilmu-ilmu lahiriyah semacam fikih, nahwu shorof dan lain itu belum membawa jiwa ke alam kerohanian yang tinggi. Syekh Abu Hasan yang memendam suatu hasrat yang amat kuat untuk medekatkan diri pada Allah, dan akhirnya memutuskan untuk merantau ke Negara Iraq. Dimana Iraq pada waktu itu merupakan pusat peradaban Islam dan kota tujuan setiap penuntut ilmu, disamping tempat para ahli ilmu dunia, juga pusat tokoh-tokoh terkemuka dalam bidang fiqh, hadist, dan pengembaraanya di Negara Iraq, yang merupakan kawasan para sufi dan orang-orang saleh. Bertemulah beliau dengan Syekh Shalih Abi al-Fath al-Wasithi, seorang syekh yang paling berkesan di dalam hatinya sewaktu di Iraq. Kemudian Syekh Abu Fath berkata pada Syekh Abu Hasan, โ€œHai Abu Hasan, engkau mencari wali qutb di sini, padahal dia berada di negaramu sendiri, kembalilah, maka kamu akan menemukannyaโ€™โ€™.Akhirnya, Syekh Abu Hasan kembali lagi ke Maroko, kemudian bertemu dengan Syekh Shiddiq al-Qutb al-Ghauts Abi Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al-Syarif al-Hasani al-Qutb al-Akbar Maghrib, kepada beliaulah kemudian Syekh Abu Hasan baru sampai di Maroko dan ingin menemui Syekh Abdus Salam, Syekh Abu Hasan membersihkan badan dan datang laksana orang yang hina dina dengan penuh dosa. Sebelum beliau menemui Syekh Abdus Salam, ternyata Syekh Abdus Salam sudah mengetahui kedatangannya dan terlebih dulu menemui Syekh Abu Hasan di lereng gunung sekitar tempat tinggal Syekh Abdus Abdus Salam kemudian menemuinya sambil berkata, โ€œSelamat datang wahai Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar,โ€ begitu sambutan Syekh Abdus Salam sambil menuturkan nasab Syekh Abu Hasan yang sampai kepada Rasulullah Syekh Abdus Salam berkata lagi kepada Syekh Abu Hasan, โ€œKamu datang kepadaku laksana orang yang hina dina dan merasa tidak punya amal baik, maka bersamaku kamu akan memperoleh kekayaan dunia dan akhiratโ€.Kemudian Syekh Abu Hasan tinggal bersama Syekh Abdus Salam dalam beberapa hari, untuk membersihkan dirinya. Selama tinggal bersama Syekh Abdus Salam, Syekh Abu Hasan melihat beberapa karomah yang dimiliki oleh kedua ulama tersebut benar-benar merupakan pertemuan antara mursyid dan murid. Banyak sekali futuhat ilahiyyah yang diperoleh Syekh Abu Hasan dari gurunya tersebut. Di antara wasiat dari Syekh Abdus Salam yang diberikan kepada Syekh Abu Hasan adalah โ€œPertajamlah penglihatan keimananmu, maka kamu akan menemukan Allah pada setiap sesuatu.โ€Adapun asal usul nama Syadzili beliau peroleh dalam perjalanan ruhaniahnya. Dalam perjalanan ruhaniahnya beliau bercerita, โ€œKetika saya duduk di hadapan Syekh Abdus Salam, di dalam ruangan kecil, di sampingku ada anak kecil, aku ingin bertanya kepada Syekh Abdus Salam tentang nama Allah. Akan tetapi, anak kecil tadi mendatangiku dan tangannya memegang kerah bajuku, lalu berkata โ€œWahai Abu Hasan, kamu ingin bertanya kepada Syekh tentang nama Allah, padahal sesungguhnya kamu adalah nama yang kamu cari, maksudnya nama Allah telah ada di dalam hatimu. Akhirnya Syekh Abdus Salam tersenyum dan berkata โ€œDia telah menjawab pertanyaanmu.โ€Setelah kejadian tersebut, Syekh Abdus Salam memerintahkan Syekh Abu Hasan untuk pergi ke daerah Afriqiyyah Tepatnya di daerah Syadzilah, karena Allah akan menyebutnya dengan nama Syadzili, padahal waktu itu Syekh Abu Hasan belum dikenal dengan nama sesuai perintah dari gurunya, Syekh Abu Hasan berangkat ke daerah tersebut untuk mengetahui rahasia-rahasia yang telah dikatakan oleh Syekh Abdus Salam kepadanya. Dalam perjalanan ruhaniahnya, Syekh Abu Hasan banyak menerima ujian sebagaimana ujian yang dialami oleh para wali pilihan di Syadzilah, suatu daerah yang tak jauh dari Tunis, Syekh Abu Hasan menuju gua yang berada di Gunung Zaghwan, dan menundukkan dirinya semata-mata kepada Allah lewat beribadah, shalat, puasa, tilawat, dan hari, selama munajatnya di Gunung Zaghwan Syekh Abu Hasan selalu membaca Surat Al-Anโ€™am. Selama bermunajat di Gunung Zaghwan, Syekh Abu Hasan tidak menyembunyikan diri dari orang-orang yang ingin menemuinya, ia selalu menyambut dengan baik setiap pecinta maโ€™rifah yang benar benar serius dalam menuntutnya. Di dalam sebuah gua yang ada di gunung itulah, Syekh Abu Hasan berkhalwah hingga hatinya benar-benar kosong dan hanya ada Allah Swt. Jiwanya pun telah suci dari saat di akhir munajatnya, ada bisikan suara kepada Syekh Abu Hasan โ€œWahai Abu Hasan, turunlah dan bergaul-lah bersama orang, maka mereka akan dapat mengambil manfaat darimu. Kemudian Syekh Abu Hasan berkata, โ€œYa Allah, mengapa engkau perintahkan aku untuk untuk bergaul bersama mereka? Aku tidak mampu.โ€ Kemudian pertanyaan tersebut dijawab, โ€œSudahlah, turun! Niscaya kamu akan selamat dan kamu tidak akan mendapat celaan dari mereka.โ€Kemudian Syekh Abu Hasan berkata lagi, โ€œKalau aku bersama mereka, apakah nanti aku makan dari dirham mereka?โ€ Kemudian muncullah jawaban, โ€œBekerjalah, Aku Maha Kaya, kamu akan memperoleh rizki dari usahamu juga dari rizki yang Aku berikan secara gaib.โ€ Setelah itu, Syekh Abu Hasan bergaul dengan penduduk setempat, bahkan mempunyai halaqah dzikir dan perihal penisbatan nama Syadzili kepadanya, Syekh Abu Hasan berkata, โ€œPernah aku berkata, โ€œWahai Allah, mengapa engkau menamakanku dengan As-Syadzili, sedangkan aku tidak berasal dari Syadzilah. Maka aku mendengar jawaban, โ€œWahai Ali, aku tidak menamakanmu dengan As-Syadzili, tetapi engkau adalah Syadzdzuli dibaca dengan tasydid huruf dzal, yang artinya orang yang mengasingkan untuk berkhidmat dan setelah dari daerah Syadzilah, Syekh Abu Hasan bertolak ke Tunisia, tempat beliau akan menerima sebuah cobaan. Sebagaimana yang pernah diucapkan oleh guru beliau Syekh Abdus Salam, โ€œAkan ditimpakan ujian kepadamu di sana Tunisia dari pihak penguasa.โ€Ketika di Tunis, Syekh Abu Hasan tinggal di Masjid al-Bilath, banyak para ulama dan sufi yang bermukim di lingkungan sekitarnya, di antaranya al-Jalil Sayyidi Abu al-Azaim, Syekh Abu Hasan al-Shaqli dan Abu Abdillah berdakwah di Tunis, bergaul dengan masyarakat, membimbing dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan ketenangan hidup. Nama Syekh Abu Hasan terkenal di mana-mana. Sampai suatu saat terdengar oleh kadi al-Jamaโ€™ah Abul Qosim bin Barraโ€™.Ketenaran beliau membuat sang kadi, gerah, iri dan hasud. Karena Syekh Abu Hasan mempunyai murid yang sangat banyak. Kemudian sang kadi pun berusaha untuk merusak popularitasnya. Dengan usaha melaporkan kepada Sultan Abi Zakariya, dengan tuduhan, bahwa Syekh Abu Hasan berasal dari golongan Fathimi, yang saat itu memang dimusuhi Kerajaan mendapat laporan dari sang kadi, sultan pun langsung mengadakan pertemuan dan menghadirkan Syekh Abu Hasan dan Kadi Abul Qosim, serta para pakar fikih. Pertemuan tersebut dilaksanakan untuk menguji seberapa jauh keilmuan dan kemampuan yang dimiliki oleh Syekh Abu berbagai pertanyaan yang dilontarkan untuk mempermalukan Syekh Abu Hasan di depan umum. Namun usaha itu sia-sia, karena jawaban Syekh Abu Hasan yang tepat dan bisa menepis semua tuduhan, justru yang didapatkan adalah pengakuan dari Sultan bahwa beliau adalah termasuk pemuka para wali. Hal ini sesuai dengan perkataan Imam Syafiโ€™i, โ€œDalam ujian, orang akan terhina atau bertambah muliaโ€.Setelah kadi Abul Qosim gagal merusak popularitas Syekh Abu Hasan dan malu, justru nama Syekh Abu Hasan semakin harum di kalangan masyarakat. Rasa iri dan dengki sang kadi pada Syekh Abu Hasan semakin bertambah. Ia memberikan ultimatum kepada Sultan Abi Zakariya dengan mengatakan, โ€œJika tuan membiarkan dia, maka penduduk Tunis akan menurunkanmu dari singgasana.โ€Setelah diultimatum oleh sang kadi dan khawatir akan lengser. Sultan pun menahan Syekh Abu Hasan dan memenjarakannya di dalam Istana. Kabar tentang penahanan Syekh Abu Hasan terdengar oleh salah satu itu kemudian menjenguk Syekh Abu Hasan. Dengan penuh prihatin, sahabat Syekh Abu Hasan berkata, โ€œOrang-orang di luar sana membicarakanmu, bahwa kamu telah melakukan ini dan itu.โ€Kemudian dia menangis di depan Syekh Abu Hasan. Syekh Abu Hasan pun menanggapinya dengan senyum manis seraya berkata, โ€œDemi Allah, andai kata aku tidak menggunakan adab syaraโ€™ maka aku akan keluar dari sini,โ€ seraya mengisyaratkan dengan jarinya. Ketika setiap jarinya mengisyaratkan ke dinding, maka dinding tersebut langsung Syekh Abu Hasan tidak berakhir di Tunis, walaupun cikal bakal tarekatnya pertama kali di Tunis. Setelah dari Tunis beliau pindah ke wilayah timur, tepatnya di Iskandariah, Mesir. Di sinilah beliau bertemu dengan Syekh Abi Abbas Al-Mursyi, murid sekaligus penerus beliau pindah ke Mesir adalah karena ia mimpi bertenu Rasulullah Saw. Dalam mimpi itu, Rasul berkata, โ€œHai Ali, pergilah ke Mesir untuk mendidik 40 orang yang benar-benar takut padaku.โ€Sehingga ketika tinggal di Mesir, banyak ulama yang berguru kepada beliau, di antaranya adalah Izzudin bin Abdus Salam, Ibnu Daqiq Al-Id, al-Hafidz Al-Mundziri, Ibnu al-Hijab, Ibnu Sholah, Ibnu Usfur dan beberapa murid beliau yang lain di madrasah Abu Hasan As-Syadzili meninggal pada tahun 656 H/ 1258 M dan dimakamkan di Humaitsara, Wilayah Bahr Ahmar. Sebelum meninggal, beliau sering menunaikan haji setiap tahun. Syekh Abu Hasan as-Syadzili, tidak meninggalkan sebuah berbentuk kitab dalam bidang tasawuf, namun beliau meninggalkan hal besar yang berbentuk laku Tarekat Syadziliyah dan Hizb Hizb An-Nashr, Hizb Bahr, Hizb Barr, Hizb Andarun Hizb tawasul dan lainnya. Semua yang dilakukan oleh Syekh Abu Hasan adalah Semata-mata untuk kemaslahatan dunia dan akhirat bagi umat kitab inti yang menjadi rujukan pengajaran tasawuf Syekh Abu Hasan As-Syadzili adalah Khatamul Auliyaโ€™ karya Al-Hakim Al-Tirmizi, al-Mawaqif wa al-Mukhotobah, karya Muhammad Bin Abdul Jabbar An-Niffari, Qutuul Qulub karya Abi Thalib Al-Makky, Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, as-Syifaโ€™ karya Qodhi Iyadh, Ar-Risalah Qusyairiyah karya Imam Qusyairi dan Muharrah Al-Wajiz Ibnu Tarekat as-Syadziliyah, tersebar di berbagai Negara, seperti Mesir, Tunis, Libya, Sudan, Indonesia dan lain sebagainya. Adapun sanad Tarekat as-Syadziliyah tersambung sampai Rasulullah Aโ€™lam HIZIB BAHR Doa Dzikir Amalan Imam Abu Hasan Asy-Syadzili As Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah hizib Bahr dan hizib Nashor. Kedua hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti thoriqot asy syaikh. Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahri adalah sebagai berikut Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalanan pun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imlaโ€™ dikte kepada syaikh. Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh. Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. โ€œAyo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang โ€œ, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam. Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, โ€œHizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera hizbul bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa hizbul bahri mengandung Ismullohil adhom dan beberapa rahasia yang sangat agung. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel Istanbul Turki menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata Seandainya hizibku Hizib Bahri, Red. ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar, Wallahu aโ€™lam. Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun. Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya. Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala balaโ€™. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 pada entri kata Hizb. Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi. Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka, maksudnya para murid thariqah syadziliyah, supaya mengamalkan hizib Bahri. ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู. ุงู„ู„ู‘ู‡ูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุงุฃูŽู„ู„ู‡ู ูŠูŽุงุนูŽุธููŠู’ู…ู ูŠูŽุงุญูŽู„ููŠู’ู…ู ูŠูŽุงุนูŽู„ููŠู’ู…ู ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุฑูŽุจู‘ูู‰, ูˆูŽุนูู„ู’ู…ููƒูŽ ุญูŽุณู’ุจูู‰, ููŽู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุจู‘ู ุฑูŽุจู‘ูู‰, ูˆูŽู†ูุนู’ู…ูŽ ุงู„ุญูŽุณู’ุจู ุญูŽุณู’ุจูู‰, ุชูŽู†ู’ุตูุฑู ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฒููŠู’ุฒู ุงู„ุฑู‘ูŽุญูŠู’ู…ู, ู†ูŽุณู’ุฆูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุนูุตู’ู…ูŽุฉูŽ ููู‰ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽูƒูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽูƒูŽู†ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽู„ูู…ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุฅูุฑูŽุงุฏูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽุทูŽุฑูŽุงุชู, ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ููƒููˆูƒู ูˆูŽุงู„ุธู‘ูู†ููˆู†ู ูˆูŽุงู’ู„ุฃูŽูˆู’ู‡ูŽุงู…ู ุงู„ุณู‘ูŽุงุชูุฑูŽุฉู ู„ูู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู ุนูŽู†ู’ ู…ูุทูŽุงู„ูŽุนูŽุฉู ุงู„ู’ุบููŠููˆุจู. โ€œDengan menyebut asmaโ€™ Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ya Allah, Wahai Yang Maha Luhur, wahai Yang Maha Agung, wahai Yang Maha Penyantun, wahai Yang Maha Mengetahui. Engkau Tuhanku, Ilmu-Mu cukup bagiku. Engkau sebaik-baik Tuhanku. Sebaik-baik pencukupan adalah pencuku-panku. Engkau menolong orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha memohon kepada-Mu penjagaan terhadap segala gerak-gerik, diam, kata-kata, kehendak, pikiran unek-unek, persangkaan, keraguan dan angan-angan yang menutup hati untuk dapat melihat yang ghaib. ููŽู‚ูŽุฏูุงุจู’ุชูู„ููŠูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ูˆูŽุฒูู„ู’ุฒูู„ููˆุง ุฒูู„ู’ุฒูŽุงู„ุงู‹ ุดูŽุฏููŠุฏู‹ุง. ูˆูŽุฅูุฐู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ููˆู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ู…ูŽุฑูŽุถูŒ ู…ูŽุง ูˆูŽุนูŽุฏูŽู†ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุบูุฑููˆุฑู‹ุง. Allah benar-benar menguji orang-orang mukmin dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang ingatlah ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata โ€œAllah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu dayaโ€. QS al-Ahzab 12. ููŽุซูŽุจู‘ูุชู’ู†ูŽุง ูˆูŽุงู†ู’ุตูุฑู’ู†ูŽุง ูˆูŽุณูŽุฎู‘ูุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ุณูŽุฎู‘ูŽุฑู’ุชูŽ ุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑูŽ ู„ูู…ููˆุณูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู, ูˆุณูŽุฎู‘ูŽุฑู’ุชูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูŽ ูู„ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู, ูˆูŽุณูŽุฎู‘ูŽุฑู’ุชูŽ ุงู’ู„ุฌูุจูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฏููŠู’ุฏูŽ ู„ูุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู, ูˆุณูŽุฎู‘ูŽุฑู’ุชูŽ ุงู„ุฑู‘ููŠู’ุญูŽ ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽูŠูŽุงุทููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุฌูู†ู‘ูŽ ู„ูุณูู„ูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู, ูˆูŽุณูŽุฎู‘ูุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ูƒูู„ู‘ูŽ ุจูŽุญู’ุฑู ู‡ููˆูŽ ู„ูƒูŽ ููู‰ ุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู, ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽูƒููˆุชู, ูˆูŽุจูŽุญู’ุฑู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง, ูˆูŽุจูŽุญู’ุฑู ุงู’ู„ุขุฎูุฑูŽุฉู, ูˆูŽุณูŽุฎู‘ูุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ูƒูู„ู‘ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู, ูŠูŽุงู…ูŽู†ู’ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู…ูŽู„ูŽูƒููˆุชู ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุฆู, Karenanya, kuatkanlah kami, tolonglah kami, dan tundukkanlah lautan ini kepada kami, sebagaimana Engkau telah menundukkan lautan kepada Nabi Musa as; Engkau tundukkan api kepada Nabi Ibrahim as; Engkau tundukkan gunung dan besi kepada Nabi Dawud as; dan Engkau tundukkan angin, syetan dan jin kepada Nabi Sulaiman as. Tundukkanlah kepada kami setiap laut milik-Mu di bumi dan di langit, setiap kerajaan dan kekuasaan, dan tundukkan kepada kami lautan dunia dan akhirat. Serta tundukkan kepada kami segala sesuatu, Wahai Tuhan yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. ูƒู‡ูŠุนุต ูƒู‡ูŠุนุต ูƒู‡ูŠุนุต ุงูู†ู’ุตูุฑู’ู†ูŽุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุตูุฑููŠู’ู†ูŽ, ูˆูŽุงูู’ุชูŽุญู’ ู„ูŽู†ูŽุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ููŽุงุชูุญููŠู’ู†ูŽ, ูˆูŽุงุบู’ููุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู’ู„ุบูŽุงููุฑููŠู’ู†ูŽ, ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู†ูŽุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุงุญูู…ููŠู’ู†ูŽ, ูˆูŽุงุฑู’ุฒูู‚ู’ู†ูŽุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุงุฒูู‚ููŠู’ู†ูŽ, ูˆูŽุงู‡ู’ุฏูู†ูŽุง ูˆูŽู†ูŽุฌู‘ูู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุธู‘ูŽุงู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ, ูˆูŽู‡ูŽุจู’ ู„ูŽู†ูŽุง ุฑููŠู’ุญู‹ุง ุทูŽูŠู‘ูุจูŽุฉู‹ ูƒูŽู…ูŽุง ู‡ููŠูŽ ููู‰ ุนูู„ู’ู…ููƒูŽ, ูˆูŽุงู†ู’ุดูุฑู’ู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุฎูŽุฒูŽุงุฆูู†ู ุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ูˆูŽุงุญู’ู…ูู„ู’ู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุง ุญูŽู…ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุฑูŽุงู…ูŽุฉู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงูููŠูŽุฉู ููู‰ ุงู„ุฏู‘ููŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆุงู„ุฃุฎูุฑูŽุฉู, ูŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุฆู ู‚ูŽุฏููŠู’ุฑูŒ, Kaaf haa yaa aโ€™iin shaad 3x. Tolonglah kami, karena Engkau sebaik-baik penolong. Bukakan kepada kami rahmat-Mu, karena Engkau sebaik-baik Pembuka. Ampunilah kami, karena Engkau sebaik-baik pengampun dosa. Sayangilah kami, karena Engkau sebaik-baik penyayang. Anugerahilah kami rizki, karena Engkau sebaik-baik Pemberi rizki. Tunjukilah kami dan selamatkanlah kami dari kaum yang zhalim. Anugerahkan kepada kami angin yang baik, sebagaimana Yang Engkau ketahui. Tebar-kanlah angin tersebut kepada kami dari gudang simpanan rahmat-Mu. Pikulkanlah kepada kami muatan kemuliaan, keselamatan dan kesejahteraan dalam urusan agama, dunia dan akhirat. Karena Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ุงู„ู„ู‘ู‡ูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุณู‘ูุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ุงูู…ููˆุฑูŽู†ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงุญูŽุฉู ู„ูู‚ูู„ููˆุจูู†ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุจู’ุฏูŽุงู†ูู†ูŽุง, ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงูููŠูŽุฉูŽ ููู‰ุฏููŠู’ู†ูู†ูŽุง ูˆูŽุฏูู†ู’ูŠูŽุงู†ูŽุง, ูˆูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู†ูŽุง ุตูŽุงุญูุจู‹ุง ููู‰ ุณูŽููŽุฑูู†ูŽุง ูˆูŽุญูŽุถูŽุฑูู†ูŽุง ูˆูŽุฎูŽู„ููŠููŽุฉู‹ ููู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู†ูŽุง, ูˆูŽุงุทู’ู…ูุณู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ูˆูุฌููˆู‡ู ุฃูŽุนู’ุฏูŽุงุฆูู†ูŽุง, ูˆูŽุงู…ู’ุณูŽุฎู’ู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽุชูู‡ูู…ู’ ููŽู„ุงูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทููŠู’ุนููˆู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุถููŠู‘ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฌูู‰ู’ุกูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง. Ya Allah! Mudahkanlah kepada kami semua urusan kami dengan perasaan lega/rehat didalam hati dan badan kami, serta keselamatan dan kesehatan/ kesejahteraan didalam agama dan dunia kami. Jadilah Engkau sebagai teman kami sewaktu dalam perjalanan dan kehadiran kami, serta sebagai pengganti didalam keluarga kami. Binasakanlah wajah-wajah musuh kami dan ubahlah mereka di tempat mereka berada, sehingga mereka tidak mampu berjalan/lewat dan kembali ke arah kami. ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ู†ูŽุดูŽุงุกู ู„ูŽุทูŽู…ูŽุณู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุนู’ูŠูู†ูู‡ูู…ู’ ููŽุงุณู’ุชูŽุจูŽู‚ููˆุง ุงู„ุตู‘ูุฑูŽุงุทูŽ ููŽุฃูŽู†ู‘ูŽู‰ ูŠูุจู’ุตูุฑููˆู†ูŽ. ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ู†ูŽุดูŽุงุกู ู„ูŽู…ูŽุณูŽุฎู’ู†ูŽุงู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽุชูู‡ูู…ู’ ููŽู…ูŽุง ุงุณู’ุชูŽุทูŽุงุนููˆุง ู…ูุถููŠู‘ู‹ุง ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฑู’ุฌูุนููˆู†ูŽ Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba mencari jalan. Maka betapakah mereka dapat melihat nya. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali. QS Yasin 66-67. ูŠุณ. ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุกูŽุงู†ู ุงู„ู’ุญูŽูƒููŠู…ู. ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู„ูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุฑู’ุณูŽู„ููŠู†ูŽ. ุนูŽู„ูŽู‰ ุตูุฑูŽุงุทู ู…ูุณู’ุชูŽู‚ููŠู…ู. ุชูŽู†ู’ุฒููŠู„ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฒููŠุฒู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู. ู„ูุชูู†ู’ุฐูุฑูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูŽุง ุฃูู†ู’ุฐูุฑูŽ ุกูŽุงุจูŽุงุคูู‡ูู…ู’ ููŽู‡ูู…ู’ ุบูŽุงููู„ููˆู†ูŽ. ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูู‡ูู…ู’ ููŽู‡ูู…ู’ ู„ุงูŽ ูŠูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ. ุฅูู†ู‘ูŽุง ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ูููŠ ุฃูŽุนู’ู†ูŽุงู‚ูู‡ูู…ู’ ุฃูŽุบู’ู„ุงูŽู„ุงูŽ ููŽู‡ููŠูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู’ู„ุฃูŽุฐู’ู‚ูŽุงู†ู ููŽู‡ูู…ู’ ู…ูู‚ู’ู…ูŽุญููˆู†ูŽ. ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุจูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽูŠู’ุฏููŠู‡ูู…ู’ ุณูŽุฏู‘ู‹ุง ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฎูŽู„ู’ููู‡ูู…ู’ ุณูŽุฏู‘ู‹ุง ููŽุฃูŽุบู’ุดูŽูŠู’ู†ูŽุงู‡ูู…ู’ ููŽู‡ูู…ู’ ู„ุงูŽ ูŠูุจู’ุตูุฑููˆู†ูŽ. Yaasiin. Demi Al Qurโ€™an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, yang berada di atas jalan yang lurus, sebagai wahyu yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan ketentuan Allah terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka diangkat ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding pula, dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. QS Yaasiin 1-9. ุดูŽุงู‡ูŽุชู ุงู„ู’ูˆูุฌููˆู‡ู 3ร— ูˆูŽุนูŽู†ูŽุชู ุงู„ู’ูˆูุฌููˆู‡ู ู„ูู„ู’ุญูŽูŠู‘ู ุงู„ู’ู‚ูŽูŠู‘ููˆู…ู ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽุงุจูŽ ู…ูŽู†ู’ ุญูŽู…ูŽู„ูŽ ุธูู„ู’ู…ู‹ุง. Buruklah wajah-wajah mereka. Dan tunduklah semua muka dengan berendah diri kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya. Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman. QS Thaha 111. ุทุณ. ุญู…ุนุณู‚. ู…ูŽุฑูŽุฌูŽ ุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑูŽูŠู’ู†ู ูŠูŽู„ู’ุชูŽู‚ููŠูŽุงู†ู. ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุจูŽุฑู’ุฒูŽุฎูŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽุจู’ุบููŠูŽุงู†ู. Thaa siin. Haa miim aiin siin qaaf. Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. QS ar-Rahman 19-20. ุญู… ุญู… ุญู… ุญู… ุญู… ุญู… ุญู…. ุญูู…ู‘ูŽ ุงู’ู„ุฃูŽู…ู’ุฑู ูˆูŽุฌูŽุงุกูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุตู’ุฑู ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูู†ู’ุตูŽุฑููˆู†ูŽ. ุญู…. ุชูŽู†ู’ุฒููŠู„ู ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุฒููŠุฒู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู…ู. ุบูŽุงููุฑู ุงู„ุฐู‘ูŽู†ู’ุจู ูˆูŽู‚ูŽุงุจูู„ู ุงู„ุชู‘ูŽูˆู’ุจู ุดูŽุฏููŠุฏู ุงู„ู’ุนูู‚ูŽุงุจู ุฐููŠ ุงู„ุทู‘ูŽูˆู’ู„ู ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู‡ููˆูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽุตููŠุฑู. Haa miim, Haa miim, Haa miim, Haa miim, Haa miim, Haa miim, Haa miim, urusan diluaskan dan datang pertolongan/kemenangan kepada kami, sehingga mereka tidak mendapatkan miim. Diturunkan Kitab ini Al Qurโ€™an dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali semua makhluk. QS al-Mukmin 1-3. ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูŽุงุจูู†ูŽุง, ุชูŽุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ุญููŠูŽุทูŽุงู†ูู†ูŽุง, ูŠุณ ุณูŽู‚ู’ููู†ูŽุง, ูƒู‡ูŠุนุต ูƒูููŽุงูŠูŽุชูู†ูŽุง, ุญู…ุนุณู‚ ุญูู…ูŽุงูŠูŽุชูู†ูŽุง, ู‚. ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู ุงู’ู„ู…ูŽุฌููŠู’ุฏู ูˆูู‚ูŽุงูŠูŽุชูู†ูŽุง, Bismillahโ€™ pintu kami, Tabaarakaโ€™ pagar kami, Yaasiinโ€™ atap kami, Kaaf haa yaa aiin shaadโ€™ pelindung kami, dan Haa miim aiin siin qaafโ€™ pemelihara kami. Qaaf. Wal-qur-aanil majiidโ€™, penjaga kami. ููŽุณูŽูŠูŽูƒู’ูููŠู’ูƒูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‡ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู’ู…ู 3ร— Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. QS al-Baqarah 137. ุณูุชู’ุฑู ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู ู…ูŽุณู’ุจููˆู„ูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง, ูˆูŽุนูŽูŠู’ู†ู ุงู„ู„ู‡ ู†ูŽุงุธูุฑูŽุฉูŒ ุฅูู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง, ุจูุญูŽูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูู‚ู’ุฏูŽุฑู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง, ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุงุฆูู‡ูู…ู’ ู…ูุญููŠุทูŒุจูŽู„ู’ ู‡ููˆูŽ ู‚ูุฑู’ุกูŽุงู†ูŒ ู…ูŽุฌููŠุฏูŒูููŠ ู„ูŽูˆู’ุญู ู…ูŽุญู’ูููˆุธู. Tirai arasy diturunkan kepada kami dan Mataโ€™ Pengawasan Allah memandang kami, berkat kekuatan Allah mereka tidak mampu menguasai Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qurโ€™an yang mulia, yang tersimpan dalam Lauh Mahfuzh. QS al-Buruj 20-22 ููŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ุญูŽุงููุธู‹ุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽุฑู’ุญูŽู…ู ุงู„ุฑู‘ูŽุงุญูู…ููŠู†ูŽ 3ร— Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. QS Yusuf 64. ุฅูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ููŠู‘ููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽุฒู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูŽุชูŽูˆูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ 3ร—. Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab Al Qurโ€™an dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. QS al-Aโ€™raf 196. ุญูŽุณู’ุจููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู‡ููˆูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุชูŽูˆูŽูƒู‘ูŽู„ู’ุชู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู…ู 3ร— Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki `Arsy yang agung. QS at-Taubah 129. ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู‘ุฐููŠ ู„ุงูŽ ูŠูŽุถูุฑู‘ู ู…ูŽุนูŽ ุงุณู’ู…ูู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆูŒ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽู„ุงูŽ ููู‰ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ูˆูŽ ู‡ููˆูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู’ู…ู 3ร— Dengan menyebut asmaโ€™ Allah Yang dengan asnaโ€™-Nya itu tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ูˆูŽู„ุงูŽ ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ู‚ููˆู‘ูŽุฉูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุนูŽู„ููŠู‘ู ุงู„ุนูŽุธููŠู’ู…ู, Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur lagi Maha Agung. ูˆูŽุตูŽู„ู‰ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ ุนูŽู„ู‰ูŽ ุณูŽูŠู‘ูุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุตูŽุญู’ุจูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ. Semoga Allah melimpahkan rahmat taโ€™zhim dan salam sejahtera kepada junjungan kami Muham-mad, seorang Nabi yang buta huruf, dan juga kepada para keluarga dan sahabatnya. Didalam suatu naskah, ada tambahan bacaan ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽู…ูŽู„ุงูŽุฆููƒูŽุชูŽู‡ู ูŠูุตูŽู„ู‘ููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุกูŽุงู…ูŽู†ููˆุง ุตูŽู„ู‘ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ููˆุง ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ู‹ุง. โ€œSesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.โ€ QS al-Ahzab 56. Dalam sebuah naskah yang lain, ada tambahan bacaan ayat kursi ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ุงูŽ ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠู‘ู ุงู„ู’ู‚ูŽูŠู‘ููˆู…ู ู„ุงูŽ ุชูŽุฃู’ุฎูุฐูู‡ู ุณูู†ูŽุฉูŒ ูˆูŽ ู„ุงูŽ ู†ูŽูˆู’ู…ูŒ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ู…ูŽู†ู’ ุฐูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽุดู’ููŽุนู ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุฅูุฐู’ู†ูู‡ู ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠู‡ูู…ู’ ูˆูŽู…ูŽุง ุฎูŽู„ู’ููŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽ ู„ุงูŽ ูŠูุญููŠุทููˆู†ูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู†ู’ ุนูู„ู’ู…ูู‡ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูู…ูŽุง ุดูŽุงุกูŽ ูˆูŽุณูุนูŽ ูƒูุฑู’ุณููŠู‘ูู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู’ู„ุงูŽุฑู’ุถูŽ ูˆูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฆููˆุฏูู‡ู ุญููู’ุธูู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุนูŽู„ููŠู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู…ู. Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.โ€ QS al-Baqarah 255. Dalam naskah lainnya, ada tambahan bacaan berikut ini ูŠูŽุง ุฃู„ู„ู‡ู ูŠูŽุง ู†ููˆุฑู ูŠูŽุงุญูŽู‚ู‘ู ูŠูŽุงู…ูุจููŠู’ู†ู, ุงููƒู’ุณูู†ูู‰ ู…ูู†ู’ ู†ููˆุฑููƒูŽ, ูˆูŽุนูŽู„ู‘ูู…ู’ู†ูู‰ ู…ูู†ู’ ุนูู„ู’ู…ููƒูŽ, ูˆูŽุฃูŽูู’ู‡ูู…ู’ู†ูู‰ ุนูŽู†ู’ูƒูŽ, ูˆูŽุฃูŽุณู’ู…ูุนู’ู†ูู‰ ู…ูู†ู’ูƒูŽ, ูˆูŽุจูŽุตู‘ูุฑู’ู†ูู‰ ุจููƒูŽ, ูˆูŽุฃูŽู‚ูู…ู’ู†ูู‰ ุจูุดูู‡ููˆู’ุฏููƒูŽ, ูˆูŽุฃูŽู„ู’ุจูุณู’ู†ูู‰ ู„ูุจูŽุงุณูŽ ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูŽ, ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุฆู ู‚ูŽุฏููŠู’ุฑูŒ, โ€œYa Allah! Wahai an-Nur Pencipta Cahaya, wahai al-Haqq Maha Benar, wahai al-Mubiin Yang Terang. Berilah aku pakaian sebagian dari Nur-Mu, Ajarilah aku sebagian dari Ilmu-Mu, Berilah aku pemahaman dari-Mu, Perdengarkanlah aku dari-Mu, Berilah kami kemampuan untuk mengeta-hui denganMu, bangkitkanlah aku untuk menyaksi-kan-Mu, berilah aku pakaian takwa dari-Mu, karena Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ูŠูŽุง ุณูŽู…ููŠู’ุนู ูŠูŽุงุนูŽู„ููŠู’ู…ู ูŠูŽุงุญูŽู„ููŠู’ู…ู ูŠูŽุงุนูŽู„ููŠู‘ู ูŠูŽุง ุฃุงู„ู„ู‡ู, ุฅูุณู’ู…ูŽุนู’ ุฏูุนูŽุงุฆูู‰ ุจูุฎูŽุตูŽุงุฆูุตู ู„ูุทู’ูููƒูŽ ุขู…ููŠู’ู†. Wahai Yang Maha Mendengar, wahai Yang Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Penyantun, Wahai Yang Maha Tinggi, wahai Allah! Dengarkan doaku, berkat kekhususan sifat lemah lembut-Mu. Amin. ุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽู„ูู…ูŽุงุชู ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชู‘ูŽุงู…ู‘ูŽุงุชู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ 3ร— Aku berlindung dengan perantaraan kalimat-kalimat Allah yang sempurna seluruhnya dari keburukan apa saja yang Dia ciptakan. ูŠูŽุงุนูŽุธููŠู’ู…ูŽ ุงู„ุณู‘ูู„ู’ุทูŽุงู†ู, ูŠูŽุงู‚ูŽุฏููŠู’ู…ูŽ ุงู’ู„ุฅูุญู’ุณูŽุงู†ู, ูŠูŽุงุฏูŽุงุฆูู…ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุนู’ู…ูŽุงุกู, ูŠูŽุงุจูŽุงุณูุทูŽ ุงู„ุฑู‘ูุฒู’ู‚ู, ูŠูŽุงูƒูŽุซููŠู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑูŽุงุชู, ูŠูŽุงูˆูŽุงุณูุนูŽ ุงู„ู’ุนูŽุทูŽุงุกู, ูŠูŽุงุฏูŽุงููุนูŽ ุงู„ู’ุจูŽู„ุงูŽุกู, ูŠูŽุงุณูŽุงู…ูุนูŽ ุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุกู, ูŠูŽุงุญูŽุงุถูุฑู‹ุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูุบูŽุงุฆูุจู, ูŠูŽุงู…ูŽูˆู’ุฌููˆุฏู‹ุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุฏูŽุงุฆูุฏู, ูŠูŽุงุฎูŽูููŠู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูุทู’ูู, ูŠูŽุงู„ูŽุทููŠู’ููŽ ุงู„ุตู‘ูู†ู’ุนู, ูŠูŽุงุญูŽู„ููŠู’ู…ู‹ุง ู„ุงูŽูŠูŽุนู’ุฌูŽู„ู, ุฅูู‚ู’ุถู ุญูŽุงุฌูŽุชูู‰ ุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ูŠูŽุง ุฃูŽุฑู’ุญูŽู…ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงุญูู…ููŠู’ู†ูŽ. Wahai Yang Agung Kekuasaan-Nya! wahai Yang Dahulu kebaikan-Nya! wahai Yang Terus Menerus pemberian nikmat-Nya! wahai Yang Membeber rizki! Wahai Yang Banyak Kebaikan-Nya! Wahai Yang Luas pemberian-Nya! Wahai Penolak balak! Wahai Pendengar doa! Wahai Yang hadir, Yang tidak pernah absen! Wahai Yang Selalu Ada di masa genting! Wahai Yang Tersem-bunyi sifat Kelemahlembutan-Nya! Wahai Yang Maha Halus Penciptaan-Nya! Wahai Yang Maha Penyantun yang tidak terburu-buru! Kabul-kanlah hajatku, berkat rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dari sekalian yang pengasih. Doa Setelah Membaca Hizib Bahr Disusun oleh Syaikh Zarruq, penulis syarah Hizib Bahr. ุงู„ู„ู‘ู‡ูู…ู‘ูŽ ูŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูŽุง ู†ูŽุญู’ู†ู ูููŠู’ู‡ู, ูˆูŽู…ูŽุง ู†ูŽุทู’ู„ูุจูู‡ู ูˆูŽู†ูŽุฑู’ุชูŽุฌููŠู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ููู‰ ุฃูŽู…ู’ุฑูู†ูŽุง ูƒูู„ู‘ูู‡ู, ููŽูŠูŽุณู‘ูุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ู…ูŽุง ู†ูŽุญู’ู†ู ูููŠู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุณูŽููŽุฑูู†ูŽุง ูˆูŽู…ูŽุง ู†ูŽุทู’ู„ูุจูู‡ู ู…ูู†ู’ ุญูŽูˆูŽุงุฆูุฌูู†ูŽุง, ูˆูŽู‚ูŽุฑู‘ูุจู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงููŽุงุชู, ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูู„ูŽู„ู ูˆูŽุงู’ู„ุขููŽุงุชู, ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑูŽ ู‡ูŽู…ู‘ูู†ูŽุง, ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูŽุจู’ู„ูŽุบูŽ ุนูู„ู’ู…ูู†ูŽุง, ูˆู„ุงูŽ ุชูุณูŽู„ู‘ูุทู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ูŠูŽุฑู’ุญูŽู…ูู†ูŽุง ุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ูŠูŽุง ุฃูŽุฑู’ุญูŽู…ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงุญูู…ููŠู’ู†ูŽ, ูˆูŽุตูŽู„ู‰ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ ุนูŽู„ู‰ูŽ ุณูŽูŠู‘ูุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุตูŽุญู’ุจูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ. โ€œYa Allah! Sungguh Engkau mengetahui apa saja yang kami ada didalamnya, apa yang kami cari dan kami takuti dari rahmat-Mu dalam urusan kami seluruhnya. Karenanya, mudahkan-lah bagi kami selama dalam perjalanan kami dan hajat-hajat yang kami cari. Dekatkan kepada kami jarak yang jauh. Selamatkanlah kami dari cacat dan bencana. Jangan Engkau jadikan dunia ini menarik sebagian besar perhatian kami dan batas akhir dari pengetahuan kami. Jangan Engkau kuasakan kepada kami orang yang tidak memiliki kasih sayang kepada kami, berkat rahmat-Mu, Wahai Yang Maha Penyayang dari sekalian yang penyayang. Semoga Allah melim-pahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Miuhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. * Teks Doa diambil dari kitab asli โ€œKhulashoh Syawariq al-Anwarโ€ KSA, tulisan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani Kredit fb Rahmat Rahman Koleksi Ceramah Pilihan

doa penarik rezeki syekh abul hasan asy syadzili